Ada Apa Dengan Telegram?

Radiomadya.com  Pecinta madya, kabarnya akun sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube akan di-banned atau diblokir sama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Berita ini tentunya disayangkan sama semua pengguna media sosial di Indonesia. Banyak dari netizen yang langsung nyinyir dan gak setuju bila memang sosmed tersebut akan di tutup.

Padahal tidak semua orang menyalahgunakan adanya media sosial. Banyak juga kan yang menggunakan media sosial secara bijak dan benar. Tidak semua orang juga mikir kalau media sosial ini adalah sarana yang tepat buat menyebar kebencian dan juga menyebarkan kejahatan.

Tapi baru-baru ini baru saja di viralkan dengan adanya berita akun Telegeram yang di blokir oleh Menkominfo. Memang tidak semua orang menggunakan Telegram sih, karena sudah ada WhatApp. Namun banyak juga yang menggunakan aplikasi chat ini ternyata untuk melakukan kejahatan.

Nah memang ada konten yang seperti apa sih sampai Telegram di blokir? Pemerintah Indonesia menilai kalo Telegram ini menyediakan kanal yang memuat propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Intinya, Telegram ini membahayakan keamanan negara karena gak nyediain SOP untuk penanganan kasus terorisme.
Jadi maksudnya Telegram mendukung Terorisme dan Radikalisme? Tidak juga, menurut CEO-nya, perbuatan pihak Telegram itu gak salah, soalnya mereka hanya menjalankan pekerjaannya, yaitu menjaga keamanan privasi penggunanya. Pavel Durov, pendiri sekaligus CEO dari layanan Telegram pun sebenernya udah tau kalo ada aktivitas grup teroris ISIS di layanannya tersebut.

Di ketahui bahwa sejak Oktober 2015, jumlah anggota ISIS yang memakai Telegram ini naik dua kali lipat dan mencapai 9.000 pengguna. Telegram dianggap memudahkan para teroris buat melancarkan aksinya, karena layanan chatting ini lebih bisa menjaga rahasia di percakapan.
  
Memang bagaimana sih layanannya? Kok menjaga rahasia gitu? Telegram ini banyak dipake sama teroris kayak ISIS dan Al-Qaeda buat chatting. Ini karena Telegram sangat menjaga kerahasiaan percakapan para penggunanya. Menurut peneliti senior dari grup riset TAPSTRI, Jade Parker, enkripsi penjamin kerahasiaan bukan cuma satu-satunya hal yang menarik teroris buat pake Telegram.

Sebenernya di Whatsapp pun udah bisa enkripsi, cuma emang Telegram ini lebih nyediain layananan yang memudahkan buat berkomunikasi secara rahasia dari individu ke individu, maupun individu ke grup. Di Telegram juga ada fitur Secret Chatyang cuma bisa diakses dari 2 perangkat, yaitu si pengirim dan si penerima.

“Dari kejadian terorisme di Indonesia, mayoritas pelakunya ternyata menggunakan Telegram untuk berkomunikasi. Kami sudah menyurati Telegram untuk ikut menyelesaikan persoalan ini, namun tidak pernah mendapatkan tanggapan. Makanya kami kemudian mengambil langkah pemblokiran,” ujar Semuel, Abrijani, Dirjen Aplikasi dan Infromatika Kemkominfo ke Kompas.

Pemerintah pun gak diam. Ada empat langkah tindak lanjut yang diminta Kemkominfo, yaitu kemungkinan dibuatnya Government Channel supaya komunikasi sama Kemkominfo bisa lebih cepat dan efisien, minta dikasih otoritas sebagai Trusted Flagger terhadap akun atau kanal dalam layanan Telegram, dan meminta Telegram buka kantor perwakilan di Indonesia.

Nah, semoga pemblokiran ini bukan satu-satunya solusi yang dikasih sama Pemerintah, karena memblokir gak bikin terorisme itu berhenti, cuma pindah ke layanan lain aja yang belum keblokir dan dirasa aman. (Genmuda, Berbagai Sumber)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »