Top Menu

Perkuat Kondusivitas Wilayah, Pemkab Madiun Gelar Sarasehan Budaya Damai Kampung Pesilat di Balerejo

MADYA FM — Pemerintah Kabupaten Madiun terus memperkokoh komitmen dalam menjaga stabilitas dan kerukunan antar perguruan pencak silat. Melalui Forum Paguyuban Kampung Pesilat, Pemkab Madiun menggelar Sarasehan Implementasi Budaya Damai Kampung Pesilat Guna Meminimalisir Konflik Antar Perguruan di Pendopo Kecamatan Balerejo, Kamis (1/10/2026).

Acara ini dihadiri sekitar 130 peserta, terdiri atas jajaran Muspika Balerejo, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta para ketua dan pengurus ranting dari 9 perguruan pencak silat se-Kecamatan Balerejo.

Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan bahwa pencak silat merupakan identitas sekaligus potensi besar daerah yang terus difasilitasi oleh pemerintah secara berjenjang.

"Secara regulasi sudah kita buatkan wadah forum komunikasi dengan teman-teman perguruan pencak silat dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Kegiatan komunikasi ini rutin diadakan, seperti dua bulan sekali di tingkat Pemkab," ujar Bupati Madiun.

Bupati juga menyampaikan dua rencana strategis Pemkab Madiun untuk menguatkan branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia. Diantaranya pembangunan Monumen Kampung Pesilat, yang direncakanan mulai dikerjakan pada tahun 2027 berlokasi di kawasan Delta, sebelah selatan Alun-alun / Pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun. Monumen ini diproyeksikan menjadi ikon besar kebanggaan masyarakat.

Selain itu peluncuran Film Pencak Silat, dimana saat ini produksi film edukasi Budaya Pencak Silat sedang dalam proses pengerjaan (on process) dan ditargetkan rampung serta tayang pada tahun 2027.

Sementara itu Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi memaparkan pentingnya menciptakan suasana aman dan kondusif demi kelancaran pembangunan serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, terdapat empat komponen dasar untuk mewujudkan kondusivitas wilayah. Meliputi Penegakan Hukum dan Keamanan dimana kehadiran sinergis TNI-Polri (Babinsa dan Bhabinkamtibmas) serta penguatan Siskamling berbasis masyarakat.

Tata kelola pemerintahan dan regulasi. Yakni kehadiran pemerintah yang adil, adaptif, serta ditopang oleh regulasi daerah seperti Perbup Nomor 48 Tahun 2025 tentang Kabupaten Madiun Kampung Pesilat Indonesia.

Selanjutnya pada sektor sosial budaya dan komunitas yakni kerukunan komunal, mengingat dari sekitar 739.000 jiwa penduduk Kabupaten Madiun, sebanyak 57% (kurang lebih 422.000 jiwa) merupakan anggota perguruan pencak silat dari 14 perguruan yang ada.

Serta pada sektor ekonomi dan infrastruktur. Wabup menjelaskan penciptaan lapangan kerja melalui iklim investasi. Kestabilan keamanan berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Madiun di Triwulan II 2026 mencapai 7,48% (berdasarkan BPS), jauh melampaui rata-rata Jawa Timur, dengan sektor investasi tumbuh 8,5%.

Sementara itu Camat Balerejo, Suci Wuryani, dalam laporannya menyampaikan analisis strategis terkait implementasi budaya damai di wilayah Kecamatan Balerejo.

Akar budaya pencak silat yang kuat sebagai bumi kandung belasan perguruan besar, landasan hukum Perbup No. 48/2025, loyalitas anggota yang masif hingga luar daerah, serta identitas logo/slogan yang unik dinilai sebagai bentuk kekuatan (Strengths).

Namun selain itu masih ada beberapa kelemahan (Weaknesses), diantaranya branding yang belum sepenuhnya optimal, perlunya penguatan ruang kolaborasi antar-stakeholder, serta pemanfaatan media digital yang masih terbatas.

Pengembangan potensi wisata budaya/olahraga (sport culture), pembuatan festival tahunan pencak silat, sentra suvenir UMKM, dan kerja sama nasional/internasional, menjadi peluang yang bisa dikembangkan.

Suci juga tidak menampik adanya ancaman dengan adanya potensi gesekan sosial akibat oknum perguruan yang dapat merusak citra damai, persaingan cultural branding dari daerah lain, serta risiko komersialisasi berlebih yang mengikis nilai sakral budaya.

Sebagai langkah konkret di lapangan, Kecamatan Balerejo telah mengagendakan kerja bakti lintas perguruan, sarasehan berkala, serta penguatan paguyuban tingkat desa guna menekan ego sektoral.

"Di atas warna baju sakral kita masing-masing, kita semua adalah manusia yang dipenuhi pancaran sinar Ilahi. Mari kita buktikan bahwa Kampung Pesilat adalah kampung damai dan menjadikannya daya tarik wisata budaya, bukan sumber perpecahan," pungkas Suci Wuryani.(MAD)

 

Copyright © RADIO MADYA FM. Designed by OddThemes